Purbalingga siapkan 10 halte bus rapid transit


Purbalingga Siapkan 10 Halte Bus Rapid Transit 

SATELITPOST-Rencana dioperasikannya Bus Rapid Transit (BRT), yang menghubungkan Purwokerto-Purbalingga terus mengalami progres. Dinas Perhubungan (Dinhub) Kabupaten Purbalingga, telah koordinasi dengan Dinhub Kabupaten Banyumas dan Dinhub Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Trayek dan titik pemberhentian pun sudah dibahas.
Kepala Dinhub Purbalingga, Imam Wahyudi menyampaikan, pihaknya sudah membuat kesepakatan dengan Dinhub Banyumas dan Jateng, untuk menentukan trayek dan titik-titik halte tempat pemberhentian bus tersebut. Diharapkan tahun ini moda transportasi tersebut sudah bisa beroperasi.
“Kami (Dinhub Purbalingga, Banyumas, dan Jateng, red) sudah membuat kesepakatan, sudah menentukan trayek dan haltenya,” kata Imam Wahyudi, Senin (29/1).
Rencananya, kata Imam, akan ada sekitar sepuluh halte. Diproyeksikan, halte di Purbalingga ada di Terminal Bukateja, Kedung Menjangan, Jalan S Parman, Jalan Letkol Isdiman, Jalan Komisari Noto Sumarsono, Taman Kota Usman Janatin, Jalan Ahmad Yani, Jalan Mayjen Sungkono, Terminal Purbalingga dan Subterminal Jompo. Nantinya, dari provinsi akan memberikan sembilan halte dan pemkab menyediakan satu halte. Jumlah armada untuk pertama sekitar 14 unit berupa bus tiga perempat dengan dua pintu.
“Di Purbalingga rencananya ada sepuluh halte. Tinggal penyiapan infrastrukturnya. Membangun haltenya tidak sulit kok, tinggal meletakkan saja. Itu kan portabel semacam halte busway atau Tans Jakarta,” ujarnya.
Dia menambahkan, diharapkan BRT bisa mulai beroperasi pertengahan tahun ini. Sehingga semakin cepat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Menurut Imam, keberadaan BRT juga tidak terlalu berdampak pada moda transportasi lain yang sudah ada, seperti angkot dan bus mikro. Karena segmen penumpang berbeda dan pada BRT juga tidak bisa sembarang berhenti.
“Bus nantinya juga masuk ke Subterminal Jompo untuk menghidupkan terminal kecil itu. Dari sini lalu ke Sokaraja dan berakhir di Purwokerto. Tidak ada permasalahan. Kami sudah berkomunikasi dengan para awak angkutan di Kabupaten Purbalingga terkait rencana keberadaan BRT tersebut,” ujarnya.
Sementara, Palupi warga Purbalingga mengaku bangga dengan rencananya adanya BRT di Purbalingga. Hal ini menunjukkan adanya kemajuan di bidang sistem transportasi. Tapi di sisi lain, dia mengaku pesimistis apakah BRT akan mengubah perilaku warga Purbalingga dalam memanfaatkan transportasi massal ini untuk mobilitas sehari-hari.

“Mungkin yang akan tertolong banyak adalah para pekerja PT. Mereka kan banyak yang dari luar Kota Purbalingga. Sehingga dengan adanya BRT ini jelas akan terbantu karena diklaimnya kan tepat waktu,” kata dia.
Hal lain yang perlu dicermati adalah, BRT melalui sejumlah ruas jalan yang kepadatannya cukup tinggi. Seperti di Jalan Komisari Noto Sumarsono. Sejak jalan tersebut dibuka untuk dua arah, arus lalin di jalan tersebut cukup padat. Apalagi ada banyak toko dan rumah makan di sana, sehingga kalau di jam-jam tertentu tepi jalan padat dengan kendaraan yang terpakir. “Takutnya BRT yang klaim bisa antarkan penumpang tepat waktu jadi meleset,” ujarnya. (min)
foto: kompas